Di tengah lanskap arsitektur Eropa yang didominasi oleh katedral Gotik, gereja Barok, dan bangunan klasik bergaya barat, terselip sebuah permata arsitektur spiritual yang mendobrak kebiasaan. Berdiri megah di tepi utara Sungai Neva di Saint Petersburg, Rusia, terdapat Datsan Gunzechoinei. Ini adalah kuil Buddha Tibet (aliran Gelugpa) paling utara di benua Eropa, sekaligus salah satu struktur keagamaan paling eksotis dan unik yang pernah dibangun di luar wilayah tradisional Asia.
Sejarah Pendirian dan Perjuangan Awal
Gagasan mendirikan kuil Buddha di ibu kota Kekaisaran Rusia ini bermula pada akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20. Tokoh kunci di balik proyek ambisius ini adalah Agvan Dorzhiev. Seorang bhiksu Buryat yang juga merupakan diplomat terpercaya sekaligus perwakilan resmi Dalai Lama XIII di Rusia. Dorzhiev meyakinkan pemerintah kekaisaran bahwa jutaan warga Rusia di wilayah Siberia, Buryatia, dan Kalmykia menganut agama Buddha, sehingga sudah sewajarnya mereka memiliki tempat ibadah representatif di ibu kota negara.
Setelah melalui lobi panjang dan persetujuan dari Tsar Nikolas II—yang menyatakan bahwa umat Buddha di Rusia berada di bawah perlindungan “elang berkepala dua”—pembangunan pun dimulai pada tahun 1909. Desain kuil ini digarap oleh arsitek terkemuka G.V. Baranovsky dan N.M. Berezovsky, dengan tetap berkonsultasi pada para ilmuwan orientalis terkemuka Rusia serta seniman legendaris Nikolai Roerich.
Meskipun sempat mendapat tentang keras dari kalangan Gereja Ortodoks Rusia pada masa itu, pembangunan terus berjalan. Layanan keagamaan pertama diselenggarakan secara simbolis pada 21 Februari 1913 untuk memperingati 300 tahun Dinasti Romanov. Kuil ini resmi ditahbiskan secara utuh pada 10 Agustus 1915 dengan nama resmi Datsan Gunzechoinei, yang dalam bahasa Tibet berarti “Sumber Ajaran Buddha yang Penuh Belas Kasih kepada Semua Makhluk”.
Keajaiban Arsitektur: Perpaduan Kanon Tibet dan Art Nouveau
Keunikan utama Datsan Gunzechoinei terletak pada perpaduan estetikanya yang tidak biasa. Bangunan ini memadukan prinsip-prinsip arsitektur tradisional Tibet yang kaku dengan aliran seni Northern Art Nouveau yang sedang tren di Saint Petersburg pada masa itu.
- Eksterior Batu Granit Ungu: Dinding kuil dilapisi dengan blok-blok granit merah-ungu yang disusun meruncing secara trapesium. Gradasi warna ini membuat bangunan tersebut sering dijuluki sebagai “kuil amfibius” atau “kuil ametis. Karena tampilannya yang berkilau unik di bawah cahaya matahari utara.
- Simbolisme Fasad dan Menara: Di bagian atas kuil terdapat menara lonceng bertingkat yang dimahkotai oleh ganchir (puncak menara berlapis emas). Di sekelilingnya terdapat roda Dharma (roda sembilan jari-jari yang melambangkan alam semesta dan pohon Bodhi) serta patung-patung rusa perunggu berlapis emas, merujuk pada ceramah pertama Buddha di Taman Rusa di Benares.
- Singa Penjaga (The Guardian Lions): Di pintu masuk utama, pengunjung disambut oleh dua patung singa granit. Singa jantan dan betina ini menyimbolkan keseimbangan prinsip maskulin dan feminin. Di dalam mulut masing-masing singa terdapat bola batu yang dapat diputar searah jarum jam—sebuah tradisi di mana pengunjung sering memutarnya sambil memanjatkan harapan.
- Interior dan Jendela Kaca Patri: Di dalam kuil, pencahayaan alami masuk melalui jendela kaca patri penuh warna yang dirancang dengan pola delapan simbol keberuntungan Buddha.
Perjalanan Kelam di Era Soviet dan Kebangkitannya
Sejarah Datsan Gunzechoinei tidak berjalan mulus. Selepas Revolusi Rusia 1917, nasib kuil ini berubah drastis. Pada dekade 1920-an hingga 1930-an, di tengah gelombang ateisme militan dan penindasan politik di bawah rezim Soviet, kuil ini dijarah. Patung-patung suci, teks kuno, dan barang-barang ritual disita. Puncaknya pada tahun 1937, para bhiksu dan umat Buddha terakhir yang tinggal di sana ditangkap dan dieksekusi oleh NKVD.
Selama masa Perang Dunia II dan era Soviet selanjutnya, bangunan ini dialihfungsikan menjadi laboratorium, pangkalan militer, hingga gudang. Ajaibnya, struktur fisik kuil berhasil selamat dari kehancuran total selama Pengepungan Leningrad berkat intervensi para ilmuwan dan simpatisan orientalis.
Titik balik terjadi pada tahun 1989, ketika komunitas Buddhis Saint Petersburg dihidupkan kembali dan gedung kuil dikembalikan secara resmi kepada umat Buddha. Pemugaran besar-besaran dilakukan untuk mengembalikan kemegahan aslinya. Patung Buddha besar berlapis tembaga—replika dari hadiah Raja Siam (Thailand) Rama VI pada masa lalu—kembali menghiasi ruang utama altar.
Datsan Gunzechoinei Hari Ini
Saat ini, Datsan Gunzechoinei bukan sekadar monumen sejarah atau objek wisata arsitektur, melainkan pusat aktif kegiatan keagamaan dan budaya. Tempat ini terbuka untuk siapa saja, terlepas dari latar belakang agama mereka, asalkan pengunjung menghormati aturan tata krama setempat (seperti mengenakan pelapis sepatu, membuka penutup kepala, dan berjalan mengitari altar searah jarum jam).
Di dalam kompleks kuil, para pengunjung dapat menjumpai para lama yang memberikan ceramah filosofi Buddha, meditasi. Sehingga konsultasi kesehatan melalui pengobatan tradisional Tibet (emchi lamas) dan astrologi. Kehadiran datsan ini membuktikan bahwa Saint Petersburg adalah kota yang merangkul keragaman budaya lintas peradaban, menjembatani kearifan Timur yang eksotis dengan megahnya atmosfer Eropa Utara.
Baca Juga : Pesona Alam Bawah Tanah Indonesia Menguak Keajaiban Geologi Gua Pangkep dan Gua Rangko


