Penemuan Situs Candi Bata di Kabupaten Batang, Jawa Tengah, menjadi salah satu temuan arkeologi paling penting dalam beberapa tahun terakhir di Indonesia. Situs ini tidak hanya menarik perhatian para peneliti, tetapi juga membuka kembali diskusi tentang awal perkembangan peradaban Hindu-Buddha di Pulau Jawa. Berdasarkan penelitian awal oleh Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), situs ini diperkirakan berasal dari abad ke-7 Masehi, jauh sebelum masa kejayaan kerajaan Mataram Kuno.
Penemuan yang Tidak Disengaja
Situs Candi Bata ditemukan secara tidak sengaja di Desa Sawangan, Kecamatan Gringsing, Kabupaten Batang. Penemuan ini bermula saat proses pembersihan lahan perkebunan untuk pembangunan Kawasan Industri Terpadu (KIT) Batang. Aktivitas tersebut membuka lapisan tanah dan memperlihatkan struktur bata kuno yang sebelumnya tersembunyi di bawah permukaan.
Temuan awal berupa susunan bata dan runtuhan struktur memicu penelitian lebih lanjut oleh tim arkeolog BRIN, termasuk arkeolog asal Prancis, Veronique de Groot. Dari sinilah diketahui bahwa struktur tersebut bukan sekadar bangunan biasa, melainkan bagian dari sebuah kompleks candi kuno.
Menariknya, struktur candi ini berada pada kedalaman kurang dari satu meter dari permukaan tanah, yang menunjukkan bahwa situs tersebut relatif dangkal dan mungkin tertimbun secara alami seiring waktu.
Usia dan Penanggalan: Abad ke-7 Masehi
Salah satu aspek paling penting dari temuan ini adalah penentuan usia situs. Berdasarkan analisis arkeologi dan penelitian terhadap material organik seperti arang yang ditemukan di lokasi, diketahui bahwa situs ini berasal dari sekitar tahun 630-an Masehi, atau abad ke-7.
Penanggalan ini menjadikan Candi Bata Batang sebagai salah satu situs candi tertua di Jawa Tengah, bahkan diduga lebih tua daripada beberapa candi terkenal seperti Candi Borobudur yang berasal dari abad ke-8 hingga ke-9. Fakta ini sangat penting karena selama ini perkembangan candi di Jawa Tengah sering dikaitkan dengan era Mataram Kuno. Namun, temuan ini menunjukkan bahwa aktivitas religius dan pembangunan candi sudah dimulai jauh sebelumnya.
Hubungan dengan Kerajaan Kalingga
Berdasarkan kajian sejarah, situs ini kemungkinan berkaitan dengan Kerajaan Kalingga (atau Holing). Sebuah kerajaan kuno yang disebut dalam catatan Tiongkok pada abad ke-7.
Kerajaan Kalingga dikenal sebagai salah satu kerajaan awal di Jawa yang memiliki hubungan dagang dan budaya dengan Tiongkok. Jika benar situs Candi Bata Batang berasal dari periode ini, maka candi tersebut bisa menjadi bukti fisik keberadaan dan perkembangan budaya religius di masa Kalingga.
Hal ini juga memperkuat dugaan bahwa wilayah pesisir utara Jawa, termasuk Batang, telah menjadi pusat aktivitas budaya dan perdagangan sejak awal sejarah Jawa.
Struktur dan Karakteristik Candi
Dari hasil ekskavasi awal, diketahui bahwa struktur candi memiliki ukuran sekitar 16 x 16 meter dan kemungkinan hanya memiliki satu pintu utama. Berbeda dengan banyak candi di Jawa Tengah yang menggunakan batu andesit, Candi Bata Batang dibangun menggunakan material bata merah. Hal ini menunjukkan adanya variasi teknologi dan sumber daya lokal dalam pembangunan candi pada masa itu.
Penggunaan bata sebagai bahan utama juga mengingatkan pada situs-situs kuno lain di Indonesia. Seperti kompleks Candi Batujaya yang berasal dari abad ke-5 hingga ke-6 dan juga menggunakan bata sebagai material utama. Selain itu, hasil pemetaan menunjukkan bahwa candi ini tidak berdiri sendiri. Melainkan bagian dari kompleks yang lebih luas dengan beberapa struktur lain di sekitarnya.
Sebelum Mataram Kuno: Mengubah Narasi Sejarah
Salah satu implikasi terbesar dari penemuan ini adalah perubahan dalam pemahaman sejarah awal Jawa. Selama ini, periode sebelum Mataram Kuno relatif minim bukti arkeologis, terutama di Jawa Tengah. Namun, dengan adanya Candi Bata Batang, para peneliti mendapatkan bukti bahwa sudah ada tradisi pembangunan candi sebelum abad ke-8. Bahkan, situs ini disebut sebagai salah satu yang tertua di Jawa Tengah.
Fungsi dan Agama: Masih Misteri
Meskipun struktur candi sudah mulai teridentifikasi, fungsi dan latar belakang keagamaan situs ini masih menjadi perdebatan. Para peneliti belum dapat memastikan apakah candi ini merupakan tempat ibadah Hindu atau Buddha. Namun, beberapa kemiripan struktur dengan situs seperti Candi Batujaya mengarah pada kemungkinan pengaruh Buddha awal di wilayah tersebut.
Potensi sebagai Cagar Budaya
Pemerintah daerah dan BRIN berencana menjadikan situs ini sebagai cagar budaya yang dilindungi. Langkah ini penting untuk menjaga kelestarian situs sekaligus menjadikannya sebagai sumber edukasi bagi masyarakat. Selain itu, situs ini juga memiliki potensi besar sebagai destinasi wisata sejarah baru di Jawa Tengah.
Baca Juga : Jetavanaramaya Sri Lanka Jejak Peradaban Kuno dalam Candi Terbesar di Dunia.

