Perbandingan Tinggi Gunung Denali dan Gunung Everest, Mana yang Lebih Ekstrem dari Segi Elevasi?

Perbandingan Tinggi Gunung Denali dan Gunung Everest, Mana yang Lebih Ekstrem dari Segi Elevasi?

EARTHIANOS Gunung Denali di Alaska dan Gunung Everest di kawasan Himalaya sering menjadi bahan perbandingan ketika membahas gunung tertinggi dan paling ekstrem di dunia. Keduanya memiliki karakteristik unik yang membuatnya terkenal di kalangan pendaki, ilmuwan, dan pecinta alam. Namun, pertanyaan yang sering muncul adalah: mana yang lebih ekstrem dari segi elevasi, Gunung Denali atau Everest? Untuk menjawabnya, kita perlu memahami cara pengukuran ketinggian gunung dan faktor-faktor yang memengaruhi tingkat ekstremitasnya.

Pengertian Elevasi dan Cara Mengukurnya

Secara umum, elevasi gunung diukur dari permukaan laut hingga puncak tertinggi. Metode ini digunakan secara global karena memberikan standar yang seragam untuk membandingkan ketinggian gunung di seluruh dunia. Berdasarkan metode ini, Gunung Everest memiliki ketinggian sekitar 8.848 meter di atas permukaan laut dan diakui sebagai gunung tertinggi di dunia. Sementara itu, Gunung Denali memiliki ketinggian sekitar 6.190 meter di atas permukaan laut, menjadikannya puncak tertinggi di Amerika Utara.

Jika hanya melihat angka ini, maka kesimpulannya jelas: Everest lebih tinggi daripada Denali. Namun, elevasi dari permukaan laut bukan satu-satunya cara untuk menilai seberapa ekstrem sebuah gunung.

Perbandingan Vertical Rise: Dasar ke Puncak

Selain elevasi dari permukaan laut, ada konsep lain yang disebut vertical rise, yaitu perbedaan ketinggian dari dasar gunung hingga puncaknya. Konsep ini sering digunakan oleh pendaki untuk menilai seberapa berat pendakian yang harus dilakukan secara fisik. Gunung Denali berdiri di atas dataran yang relatif rendah. Dasar gunungnya berada tidak jauh dari permukaan laut, sehingga pendaki harus menempuh hampir seluruh ketinggian gunung dari bawah hingga ke puncak. Total kenaikan vertikal Denali bisa mencapai lebih dari 5.500 meter.

Sebaliknya, Gunung Everest berdiri di atas dataran tinggi Tibet dan Nepal yang sudah berada ribuan meter di atas permukaan laut. Base camp Everest sendiri berada di ketinggian sekitar 5.300 meter. Artinya, meskipun Everest lebih tinggi secara absolut, kenaikan vertikal dari titik awal pendakian ke puncak justru lebih kecil dibandingkan Denali.

Dari sudut pandang ini, Denali dapat dianggap lebih ekstrem karena total elevasi yang harus didaki dari dasar ke puncak lebih besar.

Pengaruh Letak Geografis

Letak geografis kedua gunung juga memengaruhi persepsi ekstremitasnya. Denali terletak di lintang utara yang sangat tinggi, dekat dengan wilayah Arktik. Posisi ini menyebabkan suhu udara di Denali jauh lebih dingin dibandingkan gunung lain dengan ketinggian serupa. Tekanan udara di puncak Denali juga lebih rendah dibandingkan gunung di lintang yang lebih rendah, membuat efek ketinggian terasa lebih berat.

Everest, meskipun lebih tinggi, berada lebih dekat ke garis khatulistiwa. Akibatnya, tekanan udara di ketinggian tertentu relatif sedikit lebih tinggi dibandingkan Denali. Hal ini membuat pendaki Denali sering merasakan efek hipoksia lebih cepat meskipun berada di ketinggian yang lebih rendah.

Cuaca dan Kondisi Lingkungan

Cuaca merupakan faktor penting dalam menilai ekstremitas sebuah gunung. Denali dikenal dengan cuaca yang sangat tidak bersahabat. Angin kencang, badai salju, dan suhu ekstrem bisa terjadi kapan saja, bahkan di musim pendakian. Suhu di Denali dapat turun hingga puluhan derajat di bawah nol, memperbesar risiko hipotermia dan radang dingin.

Everest juga memiliki cuaca ekstrem, terutama di ketinggian di atas 8.000 meter yang dikenal sebagai “zona kematian”. Di zona ini, kadar oksigen sangat rendah dan tubuh manusia tidak bisa bertahan lama. Namun, pendakian Everest biasanya dilakukan pada jendela cuaca yang relatif singkat dan telah dipelajari dengan baik.

Perbedaan Tantangan Pendakian

Dari segi teknis, Denali sering dianggap lebih menuntut secara fisik dan logistik. Pendaki biasanya harus membawa perlengkapan dan logistik mereka sendiri, menarik beban berat di atas gletser selama berminggu-minggu. Jalur pendakian Denali juga relatif panjang dengan perubahan elevasi yang signifikan.

Everest, di sisi lain, lebih tinggi secara absolut dan memiliki risiko besar akibat ketinggian ekstrem. Namun, banyak ekspedisi Everest modern mengandalkan dukungan logistik besar, termasuk jalur yang telah dipasang tali tetap dan bantuan pemandu lokal.

Mana yang Lebih Ekstrem dari Segi Elevasi?

Jawaban atas pertanyaan ini sangat bergantung pada sudut pandang yang digunakan:

  • Dari segi elevasi absolut (permukaan laut ke puncak), Gunung Everest jelas lebih ekstrem karena merupakan gunung tertinggi di dunia.
  • Dari segi kenaikan vertikal (dasar ke puncak), Gunung Denali menawarkan tantangan elevasi yang lebih besar karena pendaki harus menempuh hampir seluruh ketinggian gunung dari bawah.

Selain itu, faktor lintang, tekanan udara, dan suhu membuat Denali terasa lebih berat secara fisiologis dibandingkan angka ketinggiannya.

Perspektif Ilmiah dan Pendaki

Banyak pendaki berpengalaman menyatakan bahwa Denali sering diremehkan karena ketinggiannya yang “lebih rendah” dibanding Everest. Padahal, kombinasi kenaikan vertikal besar, cuaca ekstrem, dan minimnya bantuan eksternal menjadikan Denali sebagai salah satu gunung paling menantang di dunia.

Everest tetap menjadi simbol tertinggi dari pencapaian pendakian manusia. Namun, ekstremitasnya lebih banyak berasal dari ketinggian absolut dan risiko di zona kematian, bukan dari total kenaikan vertikal. Gunung Denali dan Gunung Everest sama-sama ekstrem, tetapi dengan cara yang berbeda. Everest unggul dari segi elevasi tertinggi di dunia, sementara Denali unggul dalam hal kenaikan vertikal, kondisi lingkungan, dan tekanan fisiologis yang berat.

Jika ekstrem diartikan sebagai angka ketinggian tertinggi, maka Everest adalah jawabannya. Namun, jika ekstrem diartikan sebagai tantangan elevasi yang harus ditempuh dari dasar hingga puncak, maka Denali layak disebut lebih ekstrem.

Baca Juga : Keindahan Gunung Fuji yang Sangat Putih sebagai Simbol Alam Jepang yang Menakjubkan